Menari dalam Sepi

Hidup yang kita hirup adalah maut
tak habis-habisnya
seperti menanam mayat di kolam
di bawah riak dan gerak gelombang

 

Jika kita terluka; karena cita membentur dinding
bukan kekosongan atau angin
mimpi masih bisa dikenali dari temali;
dan kuda masih bisa dipacu ke arena

 

Segalanya mungkin di rimba ini;
seperti singa yang berkawan anjing
dan tak ada yang tahu pasti; siapa yang tercabik
saat lapar menghardik dan kesepian seperti badik

 

Lalu waktu menggiring; bak domba di padang-padang gembala;
rumah jagal terpeta; pasar dan sebentuk pisau daging
berhumbalang ke indra
dan maut menjadi panglima;
Sebuah hidup yang abadi; menari dalam sepi

 

 

Mashuri (Surabaya 2004)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s